INDONESIA DAN KETAHANAN ENERGI
Pidato oleh Karen Agustiawan
Presiden Direktur dan CEO, Pertamina
DI THE CENTER FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES (CSIS)
WASHINGTON D.C.
Para tamu yang terhormat,
(Pembukaan)
Hari ini saya ingin menyampaikan tentang ketahanan energi Indonesia. Dalam presentasi ini, saya berharap untuk dapat menyampaikan kepada anda semua mengapa saya memiliki rasa urgensi tentang ketahanan energi, mengapa kita perlu memahami risiko nyata yang mengancam ketahanan energi kita dan mengapa kita harus mempercepat langkah aksi kita untuk mengurai tantangan riil yang kita hadapi dalam ketahanan energi.
Apa itu ketahanan energi?
Pertama-tama, kita perlu mengerti apa yang membentuk ketahanan energi. Ketahanan energi, paling sederhananya, berhubungan dengan mengamankan energi masa depan suatu bangsa dengan cara mendapatkan sumber daya energi yang stabil dan berkecukupan dengan harga terjangkau.
Terdengar cukup sederhana namun di bawah permukaan definisi simpel ini terselubung gunung persoalan yang kompleks yang harus kita pecahkan. Kegagalan untuk melakukannya berisiko membahayakan masa depan energi kita untuk jangka waktu yang lama.
Mengapa kita harus peduli di Asia?
Saya tidak membesar-besarkan ketika mengatakan hal ini membutuhkan perhatian mendesak.
Permintaan energi global dalam beberapa dekade terakhir sebagian besar dipenuhi dengan bantuan kemajuan teknologi di sektor energi. Namun, kenyataannya kita tetap masih hidup di dunia yang penuh kelangkaan, sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan terutama di area sumber daya energi konvensional.
Masalah dipersulit dengan tmeningkatnya konsumsi energi yang diprediksi akan terus melejit seiring pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Menurut sebuah laporan British Petroleum, konsumsi energi primer di Asia Pasifik diprediksi akan meningkat 63,4 persen menjadi 7.8 miliar setara ton minyak di tahun 2030.
Hal ini menyajikan tantangan bagi pemimpin-pemimpin regional ketika mereka berusaha mencari cara untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayahnya, terutama ketika pasar-pasar yang sedang berkembang menjalani tahapan-tahapan industrilisasi dan urbanisasi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berfokus pada negeri sendiri, Indonesia, dengan kekayaan sumber daya energi alami, masih jauh dari mengamankan ketahanan energi masa depannya.
Mari saya jelaskan kesulitan kita: Konsumsi energi primer kita telah meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000 hingga 2010. Namun, produksi minyak, yang masih mendukung sebagian besar kebutuhan energi kita, telah turun dari puncak produksi sejumlah 1,6 juta barel per hari menjadi hanya 861.000 barel per hari di tahun 2012. Pada saat bersamaan, cadangan minyak terbukti menurun lebih dari 1,9 miliar barel sejak 1992, yang merupakan penurunan paling tajam di Asia.
Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan kondisi energi kita? Saya akan menyajikan tiga area aksi utama yang dapat membantu kita mengamankan masa depan energi kita.
1) Mengurangi ketergantungan kita pada minyak
Pertama kita harus menyadari bahwa kita terlalu tergantung pada minyak untuk menjalankan roda kegiatan bangsa.
Meskipun peran minyak telah menurun pada tahun-tahun belakangan ini, minyak tetap mencakupi 30 persen dari total konsumsi energi primer di tahun 2011. Ketergantungan ini diperburuk dengan kemampuan penyulingan yang rendah dan menurunnya produksi minyak bumi yang membuat Indonesia menjadi net importir minyak.
Saya tidak akan membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan ketergantungan pada minyak impor karena hal ini sudah jelas terdokumentasi dalam sejarah tahun-tahun belakangan ini. Namun saya harus menyinggung tentang titik kekhawatiran utama dan kontributor utama bagi ketidakpastian jjaringan minyak global: guncangan geopolitik di Timur-Tengah.
Masalah-masalahTimur-Tengah
Kita semua sudah melihat pergolakan-pergolakan dramatis di Timur-Tengah sejak Arab Spring mulai. Kita semua prihatin akan apa yang terjadi di sana sebagai sesama manusia yang mengasihi saudara-saudari kita yang dirundung bahaya. Namun kita juga harus peduli karena peristiwa-peristiwa di sana dapat mempengaruhi harga minyak yang berimbas secara masif pada ketahanan energi kita serta kesejahteraan perekonomian kita.
Beberapa bulan terakhir, media sudah tidak menyoroti kejadian-kejadian karena sudah bosan dengan Arab Spring. Namun ketegangan di sana terus mengeskalasi di banyak wilayah. Begitu banyak eksportir minyak utama telah terekspos secara langsung maupun secara tidak langsung oleh turbulansi politik sehingga kita harus mengikuti perkembangan di daerah rawan itu dengan seksama.
Presiden Obama, contohnya, baru-baru ini memperingatkan bahwa Iran kemungkinan akan memiliki senjata nuklir dalam satu atau beberapa tahun ke depan. Dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Israel, dia meninjau bahwa dia tidak ingin “kurang mengambil margin aman” dan menolak untuk mengesampingkan kemungkinan aksi militer. Iran adalah produsen minyak utama dan telah mengancam untuk memblokade Selat-Selat di Hormuz untuk membalas aksi militer Amerika Serikat maupun Israel. Sekitar 40% dari perdagangan minyak dunia melewati selat-selat ini, sehingga dampak dari serangan militer di Iran pada ketahanan energi kita akan cukup besar. Irak adalah contoh lain. Negara ini berada dalam spiral aksi kekerasan. Di sekitar Irak dan Iran adalah negara-negara yang sedang menghadapi krisis, seperti Syria yang secara virtual sedang mengalami perang sipil dalam dua tahun terakhir.
Menurut laporan World Energy Outlook 2012 oleh International Energy Agency, Asia diprediksi akan menyerap 90 persen ekspor minyak Timur Tengah di masa mendatang.
Oleh karena itu, kita sangat bergantung pada perkembangan-perkembangan seperti ini. Runtuhnya salah satu dari negara-negara yang sedang mengalami masalah politik ini dapat menular ke negara-negara lain di region itu, menyebabkan gelombang di seluruh region: ketergantungan pada minyak impor juga tidak akan melewatkan Indonesia.
Oleh karena itu kita harus secara proaktif mengatasi risiko ini. Untungnya, Indonesia berada di posisi yang lebih baik dibandingkan negara-negara lainnya dalam menekan ketergantungan pada minyak karena Indonesia menikmati berbagai anugerah sumber daya energi alternatif. Salah satu contohnya adalah gas alam, yang terbukti dapat menjadi penyelamat dalam situasi minyak saat ini.
Fokus pada gas alam dan gas-gas nonkonvensional
Menurut badan regulasi minyak dan gas terdahulu, BP Migas, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia memproduksi 8,8 miliar cubic feet gas alam per hari di tahun 2011, atau 1,5 juta barel setara minyak, yaitu dua-pertiga lebih banyak daripada produksi minyak. Terlebih, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2011 memperkirakan bahwa Indonesia mempunyai sumber daya gas sebesar 335 triliun cubic feet, setara dengan 59,6 miliar barel minyak.
Jika semua data ini akurat, kita seharusnya meningkatkan kecepatan kita dalam mengalihkan energy mix untuk merefleksi konsumsi gas alam yang lebih tinggi. Untuk itu, kita pertama-tama harus memastikan bahwa ada keberlangsungan di sektor tersebut, terutama karena kegiatan ekplorasi telah stagnan di beberapa tahun belakangan ini dan tidak cukup untuk menggantikan lapangan-lapangan yang menua. Saya yakin bahwa untuk mencapai potensi maksimum kita, kita tidak boleh takut untuk berhubungan dengan ahli-ahli asing dan kerjasama dengan pihak asing yang dapat membantu kita meningkatkan infrastruktur dan pengetahuan energi kita.
Penemuan gas di Selat Makassar baru-baru ini, yaitu blok Masela dan blok Natuna Timur menunjukkan potensi yang menjanjikan. Blok Natuna Timur sendiri, kita memiliki gas alam sebesar 46 triliun cubic feet yang diperkirakan dapat diekstrak untuk processing.
Menilik kegiatan-kegiatan semacam itu di masa mendatang, kerjasama dengan pihak asing akan memungkinkan kita untuk mengadopsi praktek terbaik dan teknologi yang ada di dunia, memotong kurva belajar kita secara signifikan.
Contohnya, Pertamina telah memimpin sebuah konsorsium termasuk Exxon Mobil dan Total sejak 2010 untuk mengamankan pasar bagi gas dari lapangan Natuna Timur. Kesimpulan dari studi konseptual dan analisa cadangan yang dapat dihasilkan yang diharapkan akan rampung dalam tahun ini, dimana rencana-rencana yang lebih mendetil akan dihasilkan.
Kerjasama seperti ini memberikan efek knock-on pada perusahaan-perusahaan lokal karena mereka belajar dari pengalaman-pengalaman rekan-rekan asing, sehingga membantu proyek-proyek lain, seperti blok Mahakam di Kalimantan Timur dimana pengetahuan akan operasi di laut dalam sedang dikembangkan.
Pemerintah hendaknya membantu kita mencari cara dimana kita dapat meningkatkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan asing sehingga kita dapat mengembangkan sektor ini lebih lanjut untuk menggantikan minyak sebagai sumber energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Gas Metana Batubara untuk waktu dekat
Karena Indonesia kaya akan gas, kita seharusnya juga mengeksplorasi gas-gas nonkonvensional sebagai kemungkinan pilihan untuk menggantikan minyak. Gas Metana Batubara dapat menjadi salah satu pilihan yang baik.
Gas Metana Batubara adalah gas yang serba guna yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai market. Gas ini juga sangat ekonomis, di harga setengah dari harga diesel, bersih, dan menggunakan teknik ekstraksi yang lebih efisien sehingga berdampak minimal pada lingkungan.
Selain manfaat-manfaat yang sudah disebutkan, Gas Metana Batubara juga lebih ekonomis karena biaya-biaya eksplorasi lebih rendah dibandingkan biaya eksplorasi sumur-sumur konvensional. Menurut CMB Asia Development Corp yang berbasis di Kanada, biaya pengeboran per sumur saat ini diperkirakan sekitar USD 1 juta dengan menggunakan rig berkekuatan 500 hingga 700 tenaga kuda. Biaya pengeboran ini lebih menguntungkan dibandingkan biaya pengeboran onshore convensional di Indonesia yang menelan biaya sekitar USD 10 hingga USD 30 juta per sumur.
Selain itu, cadangan Gas Metana Batubara yang diperkirakan di keenam terbesar di dunia, saya yakin bahwa Indonesia seharusnya meningkatkan kecepatan dalam mengembangkan sumber daya nonkonvensional ini.
Gas Metana Batubara sebagai pilihan kepercayaan kami pada masa depan , Pertamina berencana untuk menginvestasi sekitar US$1,5 miliar untuk mengembangkan 200 sumur eksplorasi CBM dalam lima tahun mendatang, dengan kemungkinan untuk meningkatkan investasi jika target produksi dinaikkan.
Dalam jangka lebih panjang, kita seharusnya juga merencanakan ekstrasi gas-gas nonkonvensional lainnya, seperti shale gas, yang akhir-akhir menjadi pusat perhatian sesudah Amerika Serikat berhasil dalam area ini. Namun untuk saat ini, marilah maju selangkah demi selangkah dan berkonsentrasi pada memaksimalisasi Gas Metana Batubara sebagai prioritas utama.
Kita harus selalu ingat bahwa gas alam tetaplah bahan bakar fosil. Meskipun gas merupakan komponen penting dalam perekonomian kita sekarang, gas alam tidak dapat menjadi solusi untuk seluruh kebutuhan energi kita. Justru gas alam haruslah bertindak sebagai jembatan yang mengantarkan kita ke ekonomi rendah-karbon berdasarkan energi terbarukan. Gas alam akan menekan ketergantungan kita pada minyak untuk saat ini.
Ini mengantarkan saya pada poin kedua yang ingin saya sampaikan. Kita seharusnya menguatkan diri karena ketergantungan Indonesia pada minyak bukanlah satu-satu masalah dalam energy mix negara ini.
2) Menciptakan energi mix yang terdiversifikasi melalui energi terbarukan
Sekitar 71% dari konsumsi energi primer di Indonesia selama 2011 adalah hidrokarbon. Tren dalam menggunakan hidrokarbon seperti minyak, gas dan batubara diprediksi akan tetap mendominasi energi konsumsi kita di masa depan. Kita harus menyadari bahwa di level konsumsi kita saat ini, sumber-sumber daya ini bisa segera habis.
Intensitas karbon seperti ini tidak hanya akan menyebabkan risiko yang serupa dengan ketergantungan pada minyak, namun juga kekhawatiran akan polusi berlebihan dan emisi gas rumah kaca. Contohnya, meningkatnya emisi dapat meningkatkan tekanan internasional untuk mengurangi level emisi karbon berlebihan, seperti yang dapat kita lihat di Cina dan India. Secara domestik, ketergantungan pada minyak dan gas akan memperburuk polusi di kota-kota besar, seperti Jakarta.
Oleh karena itu, energy mix seperti ini tidak dapat berlangsung dalam jangka panjang. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendiversifikasikan energi mix dan mengurangi konsumsi hidrokarbon. Generasi masa depan kita tidak seharusnya menanggung akibat dari ketiadaan tindakan kita hari ini. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa cepat atau lambat Indonesia dan seluruh dunia harus meninggalkan minyak mentah sebagai sumber listrik utama.
Alhasil, rencana-rencana jangka panjang telah dibuat untuk membangun sebuah energy mix yang melibatkan porsi sumber daya energi terbarukan yang lebih besar. Contohnya, pemerintah telah berencana untuk meningkatkan pembangkit listrik tahunan kita yang berasal dari sumber-sumber terbarukan hingga sekitar 99 juta ton setara minyak pada 2025. Saat ini, angkanya baru pada 10 juta ton setara minyak.
Namun, perbincangan untuk mempromosi perkembangan energi terbarukan telah berlangsung sangat lama dan kita tetap masih kurang berprestasi. Saya percaya bahwa kita dapat mendorong diri kita untuk lebih cepat mencapai target-target energi terbarukan.
Sumber panas bumi
Untuk mempercepat langkah kita di bidang ini, kita harus memanfaatkan kekuatan yang sudah ada. Tak dapat dipungkiri, kita langsung diarahkan ke energi panas bumi.
Lokasi geografis kita yang berada di atas Cincin Api Pasifik telah menganugerahi kita dengan potensi panas bumi yang tak terpadai. Energi panas bumi bukan hanya bersih dan terbarukan, namun juga membutuhkan ruang yang lebih kecil dibandingkan energi terbarukan lain seperti energi surya dan energi angin. Panas bumi juga memberikan persediaan yang dapat diprediksi dan konstan, tak terpengaruh oleh kondisi cuaca maupun waktu.
Potensi sumber daya panas bumi Indonesia diestimasi dapat menghasilkan listrik sebesar 29.000 megawat jika dieksploitasi dengan sepenuhnya. Saat ini kita hanya menggunakan 1.200 megawat listrik yang berasal dari energi panas bumi, yang menunjukkan jauhnya kita dari mengambil manfaat dari kondisi alam kita.
Sebagaimana berbagai inisiatif yang ditujukan untuk mengembangkan sumber energi terbarukan, kegiatan eksploitasi panas bumi juga dipengaruhi oleh kurangnya kerangka suportif pemerintah.
Namun kabar baiknya adalah Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk mengejar. Sejumlah investor telah memasuki sektor ini di tahun-tahun belakangan ini termasuk konglomerat Jepang Sumitomo dan konglomerat India Tata Energy.
Juga ada perkembangan di level makro. Tahun lalu, pemerintah Indonesia dan pemerintah Selandia Baru menandatangani perjanjian kerja sama energi panas bumi. Selandia Baru telah aktif dalam mengembangkan energi panas bumi, yang telah berkontribusi pada 70 persen porsi energi terbarukan mereka.
Oleh sebab itu, pengalaman mereka ditambah dengan kapasitas alami kita untuk berkembang dapat menjadi titik ubah. Saya sangat berharap dan optimistik bahwa kita akan mampu maju pesat di area energi ini untuk memperkuat ketahanan energi kita.
Sumber energi terbarukan lainnya: khususnya produksi biofuel dan bioethanol
Selain sumber panas bumi, juga ada sumber-sumber energi terbarukan lainnya yang layak dipertimbangkan pula.
Misalnya biofuel. Kita memiliki cadangan biomass yang besar dari industri pertanian kita, termasuk gula, karet dan minyak sawit. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat produksi biofuel, meskipun saat ini terbatasi oleh kenyataan bahwa sumber-sumber biofuel banyak diekspor karena harga makanan yang tinggi.
Sumber daya lainnya yang berpotensi untuk berkembang adalah bioethanol. Perkembangan bahan bakar ini telah menjadi bagian dari rencana Indonesia untuk mengurangi impor energi dan meningkatkan standar kualitas udara.
Rencana untuk memproduksi 10 persen campuran bahan bakar ethanol beroktan tinggi pada tahun 2020 telah menggantikan impor minyak tanah sebesar lebih dari 30 juta barel per tahun, umumnya untuk sektor transportasi kita.
Kita dapat mencontoh Brazil dimana pemerintah mereka sangat berhasil mengembangkan bioethanol. Pemerintah Brazil mulai berinvestasi besar-besaran untuk produksi ethanol sejak krisis minyak di tahun 1973. Keberhasilannya membuat bioethanol mampu berperan dalam membebaskan negara itu dari ketidakpastian pasar minyak.
Tapi saya harus memperingatkan. Kita tidak boleh menunggu krisis menghantam untuk mengambil langkah serupa.
Ada banyak sumber-sumber energi terbarukan lainnya di Indonesia yang dapat kita gunakan. Termasuk tenaga hidro dan tenaga laut, angin laut dan tenaga surya. Saya ingin mengelaborasi lebih lanjut, namun karena keterbatasan waktu, lebih baik kita membahasnya di lain kesempatan.
Secara keseluruhan, sektor gas alam dan energi terbarukan memiliki potensi pengembangan yang luar biasa. Langkah-langkah ini harus didukung oleh pemerintah agar mampu berkembang. Namun, satu isu yang menghantui pemerintah selama bertahun-tahun dan mengakibatkan dampak yang lebih besar daripada perkiraan membawa saya ke poin ke tiga, yaitu poin terakhir.
3) Beban subsidi bahan bakar harus dikurangi untuk membebaskan pendanaan penting
Banyak pengamat selama beberapa tahun terakhir telah menyuarakan bahwa Indonesia tengah bermain api dengan program subsidi bahan bakarnya.
Subsidi bahan bakar telah meningkat sejak diperkenalkan pada era 1960an. Tak hanya semakin sulit untuk mempertahankan level yang diinginkan masyarakat Indonesia, subsidi ini telah menjadi penghalang terbesar bagi efisiensi di pasar energi. Pada akhirnya, subsidi ini menghalangi inisiatif-inisiatif penting karena dua hal.
Pertama, subsidi-subsidi ini sangat mahal dimana 20 persen dari APBN saat ini digunakan untuk mendanai subsidi bahan bakar, yang juga berdampak pada budget di masa depan karena membengkaknya pinjaman untuk membiayai defisit anggaran.
Dalam APBN 2013 yang disahkan pada Oktober 2012, pemerintah mengumumkan anggaran sebesar Rp 193 triliun untuk mengsubsidi bahan bakar sebanyak 46 juta kiloliter.
Meskipun sudah besar, kuota yang disediakan setiap tahun tidak mampu mengikuti peningkatan permintaan konsumen. Contohnya, bahan bakar sebanyak 44 juta kiloliter yang dialokasi untuk tahun 2012 telah habis pada bulan November, sehingga membutuhkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk menyetujui penambahan 1,2 juta kiloliter untuk memenuhi permintaan.
Hal ini membuktikan bahwa subsidi telah memutus hubungan antara harga energi dari realitas suplai dan permintaan yang sesungguhnya, membuat masyarakat Indonesia tidak sadar akan harga bahan bakar yang sesungguhnya dan mengkonsumsi dengan berlebihan dan boros.
Kedua, ada misalokasi sumber daya karena subsidi membuat bahan bakar dijual dengan harga yang sangat murah dengan mengorbankan area-area penting lainnya seperti pemberantasan kemiskinan, penyediaan layanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Contohnya, subsidi-subsidi dalam APBN 2013 melebihi pengeluaran nasional untuk gabungan edukasi, layanan kesehatan dan pekerjaan umum.
Dampaknya besar pada sektor energi. Sebab utama mengapa sektor ini tetap kurang berkembang adalah karena Indonesia mengalami masalah infrastruktur menahun yang membuat investor asing berputar haluan.
Dengan belanja negara untuk infrastructure terus menerus di bawah 3 persen dari GDP, tak heran kita tidak mampu menarik investor asing. Dan seperti yang sudah saya sebutkan, kita memerlukan partisipasi perusahaan-perusahaan asing untuk memfasilitasi transfer teknologi dan pengetahuan. Mengurangi alokasi dana untuk subsidi bahan bakar akan membebaskan dana untuk pembangunan-pembangunan seperti ini.
Namun menghapus skema ini bukanlah opsi mudah bagi pemerintah karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan subsidi bahan bakar. Mungkin diperlukan waktu lama sebelum kita melihat perubahan nyata. Dengan pemilu 2014 yang semakin dekat, partai berkuasa dan oposisi kemungkinan tidak akan membuat kebijakan yang mengurangi subsidi bahan bakar. Tanggung jawab ini mungkin harus ditanggung oleh presiden baru kita.
Saya berharap saat itu, setidaknya pemerintah dapat meningkatkan harga bahan bakar bersubsidi untuk mengurangi beban subsidi. Hal ini akan membuat harga bahan bakar meningkat sehingga mengerem permintaan karena konsumen harus menanggung sebagian dari beban bahan bakar sementara pemerintah menghemat triliunan rupiah.
Tak hanya itu, pemotongan subsidi juga akan menyamaratakan kesempatan bagi sumber-sumber energi lainnya untuk berkompetisi dengan bahan bakar bersubsidi. Hal ini akan mendorong perkembangan energi terbarukan.
Keluar dari sektor energi, pengurangan beban subsidi bahan bakar juga akan membantu masyarakat kita untuk hidup lebih baik karena dana-dana lebih tersedia dalam membantu mereka mencapai kemajuan berkualitas.
Subsidi bahan bakar hanyalah kelegaan sesaat bagi beban hidup mereka. Dalam jangka panjang, tindakan-tindakan yang lebih berdampak seperti kebijakan edukasi, infrastruktur untuk bisnis dan kehadiran layanan kesehatan yang terjangkau akan jauh lebih meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Hal ini akan membantu kita mencapai Millennium Development Goals kita yang akan mencapai deadline pada tahun 2015.
Masih banyak masalah lain dalam kerangka dan kebijakan energi pemerintah yang memerlukan reformasi. Namun dibutuhkan upaya dan waktu yang besar untuk mengkoreksinya. Saat ini, jalan menuju aksi sudah jelas; pemerintah harus menelan peluru politik dan mengurangi beban subsidi sebagai langkah pertama menuju perubahan yang lebih besar. Pada akhirnya, kita harus menyeimbangi antara tidak membebani rakyat kita, namun juga tidak mengorbankan rencana-rencana bagi masa depan energi kita.
Kesimpulan
Saya dapat menjelaskan lebih lanjut dan memperingatkan berbagai tantangan lainnya. Namun untuk hari ini, saya hanya mengidentifikasi tiga area perubahan utama yang saya rasa dalam kemampuan kita.
- Mengurangi ketergantungan pada minyak dengan mengembangkan sektor gas alam dan gas nonkonvensional.
- Diversifikasi energi mix kita dengan percepatan rencana untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi terbarukan.
- Mengurangi beban subsidi minyak dan mengalokasi dana-dana tersebut ke area-area yang lebih penting.
Dengan tekat yang kuat, Indonesia akan menjadi lebih kuat dan lebih tangguh dalam ketahanan energi. Namun langkah kini adalah kita harus memanfaatkan hari ini dan mengimplementasi keputusan-keputusan sulit, atau berisiko terus mendiskusikan hal-hal yang sama di tahun-tahun mendatang.
Terima kasih atas perhatian anda.
Direktur Utama dan CEO
PT Pertamina (Persero)
Karen Agustiawan




